WAWANCARA BURGERKILL Thursday, February 04, 2010 10:16:50
MIMPI DAN EKSEKUSI
Akhir Januari 2010 ini, Burgerkill mendapat kesempatan emas untuk tampil di panggung “Big Day Out”, sebuah festival musik bergengsi di Australia. Jika tak ada kendala, mereka akan sepanggung, atau tepatnya, mentas setelah penampilan Fear Factory, band metal asal AS. Itu salah satu kabar penting yang mengejutkan dari Burgerkill, selain tentunya, persiapan album terbarunya!
***
Australia sekali lagi akan menjadi pembuktian kualitas Burgerkill di kancah berskala Internasional. Sebelumnya, band metal underground asal Ujungberung, Bandung yang terbentuk sejak Mei 1995 ini sudah pernah “menjajah” negeri Kanguru tersebut lewat tur promo “Beyond Coma and Despair” serta festival “Soundwave 2009”. Kini, berkat aksi panggung yang meyakinkan di festival tersebut, Burgerkill kembali didaulat untuk menyambangi Australia selama tiga hari lewat paket “Burgerkill: Western Australia Tour 2010”, di mana salah satunya mereka akan meramaikan ajang bergengsi, “Big Day Out 2010”.
Bagi Burgerkill yang telah mengoleksi tiga album studio, yakni ‘Dua Sisi’ (2000), ‘Berkarat’ (2003) dan ‘Beyond Coma and Despair’ (2004) ini, kesempatan tersebut benar-benar datang tak disangka-sangka. “Ini menjadi mimpi yang menjadi kenyataan bagi kami,” ujar gitaris sekaligus pentolan Burgerkill, Eben, penuh suka cita. Menurut Eben, inilah masanya buat Burgerkill untuk bisa mengeksplor impian-impian yang telah lama terbenam. Inilah dampak positif dari kerja keras yang telah mereka lakukan selama ini.
Kini, band yang pernah menjadi opening act untuk konser Lamb of God dan The Black Dahlia Murder di Indonesia ini telah diperkuat vokalis Vicky yang masuk menggantikan posisi mendiang Ivan “Scumbag”. Kehadiran Vicky mereka anggap telah membawa nuansa baru di tubuh Burgerkill yang diharapkan nantinya juga akan memberi konstribusi positif di penggarapan album baru yang rencananya akan digarap awal tahun 2010 ini. Secara konsisten, para personel Burgerkill – Eben, Agung (gitar), Ramdan (bas), Andris (dram) dan Vicky - ingin terus menghasilkan sesuatu yang baru, hal yang mereka impikan. Impian yang menjadi hal mendasar untuk memcapai harapan, yang buat mereka harus dieksekusi. Itulah filosofi yang dipegang teguh Burgerkill hingga setidaknya membuat mereka bisa mencapai keberhasilan seperti saat ini.
Lebih jauh dengan Burgerkill, GitarPlus mendapat kesempatan untuk berbincang dengan kedua gitarisnya yang tak bisa dipungkiri merupakan ujung tombak pembentukan karakter musik Burgerkill yang kaya akan beat, Eben dan Agung Ridho Widhiatmoko - atau yang lebih akrab disapa Agung - di markas Burgerkill di Bandung.
Ingat nama Bill Leverty? Ya benar, dia gitaris sekaligus salah satu pendiri FireHouse, band rock yang pernah melejit lewat lagu “Love of a Lifetime” di awal era ‘90an. Namun kendati gaung Firehouse kini sudah tidak semembahana dulu, namun Bill ternyata tetap aktif berkarya. Dan baru-baru ini ia kembali menelurkan album solo terbaru bertajuk “Drive”, melengkapi tiga karya solo yang sudah ia rilis sebelumnya, yakni “Wanderlust” (2004), “Southern Exposure” (2007) dan “Deep South” (2009).
Menginjak usianya yang ke-15 tahun pada Juli 2012 kemarin, band rap rock Kripikpeudeus siap merilis album baru mereka, "#Kripcoustic", via Space Record awal Mei 2013 mendatang. Rencananya, dalam album mini tersebut bakal bersemayam enam lagu lama comotan dari dua album mereka sebelumnya yang dipermak dalam format akustik.